Saturday, May 12, 2018

Apa yang bisa dipelajari dari kasus terorisme di Surabaya 2018

Post oleh : Jonska | Rilis : May 12, 2018 | Series :
Kejadian terror di Surabaya terjadi lagi, hingga detik ini yang terhitung ada 5 gereja (yang mungkin bisa bertambah). Kita wajib berduka, namun selain berduka kita harus geram kawanku. Terorisme tidak hanya merenggut nyawa, hal seperti itu juga mencoreng jati diri kita sebagai negara yang tidak aman, sektor ekonomi terganggu dan semua akan jadi sulit.

Terorisme di Gereja Katolik SMTB (Ngagel, Surabaya)
Terorisme di Gereja Katolik SMTB (Ngagel, Surabaya) | Sumber
Apa yang bisa dikatakan tentang teroris? Sudah cukup kita bersimpati dengan argumen 'oh orang ini adalah orang yang tercuci otak & tidak melakukan sesuatu sepenuhnya dari conscient mereka. Mereka ini dikontrol karena mereka miskin dan tidak punya cukup uang sehingga menghalalkan segala cara untuk dapat uang bagi keluarga yang ditinggal mati.'
Di titik mereka memilih jalan yang menghancurkan mereka sudah menjadi musuh kita dan tidak perlu ada rasa kasihan / empati sama sekali. Ini tentang kita yang nanti mati / mereka yang mati. Logis tidak?
Di sini kadang saya membayangkan alangkah enaknya kalau kita punya sistem surveillance menyeluruh di Indonesia, bayangkan CCTV di setiap bangunan, untuk menghentikan aktivitas terorisme melalui sebuah 'preemptive strike'. Tapi hal ini juga tidak baik karena bisa jadi ketika system compromised akan jadi pisau yang menusuk jantung kita sendiri. Kelihatan baik tapi juga berbahaya.

Salah satu argumen yang terbaik yang saya tahu adalah bahwa teroris ini mungkin berasal dari kalangan menengah kebawah yang diperalat, mereka tidak mengerti indahnya dunia / enaknya kehidupan dengan berbisnis, mereka jatuh ke dalam sebuah pusaran yang penuh dengan kebohongan. Mengapa kebohongan? Karena guru mereka tidak mati namun mereka peralat supaya melakukan bom bunuh diri, mereka tidak akan pernah berpikir ke titik ini karena sudah terlalu percaya.

Lawan dari terorisme adalah kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, bukan dengan cara-cara komunis, tapi dengan KERJA, KERJA, KERJA, dan membentuk iklim MERITOKRASI KAPITALIS MURNI (bebas dari merkantilisme) yang kuat di Indonesia. Semua yang bekerja dengan baik dan cerdas akan mendapatkan upahnya. Kita sebenernya berada di titik frustasi di Indonesia, ketika segala hal tidak berjalan dengan benar: maraknya pungli, premanisme, dll. kotoran seperti ini yang membuat iklim MERITOKRASI tidak jalan dan apa yang disebut KEMAJUAN nyandet.
Terorisme itu panjang sekali penjelasannya dan banyak fakta-fakta konspiratoris yang perlu digali, namun tetap KESEJAHTERAAN BERSAMA adalah jawaban paling universal yang bisa kita wacanakan di sini.
Ketika berbicara soal kebangkitan sebuah bangsa kita juga harus lihat konsep tentang 'The Will of The People' bagaimana norming yang terjadi setelah adanya storming ini juga tergantung dari rakyat sendiri ayo kawan kita jadikan diri kita CCTV, pasang mata, pasang telinga, gandeng kanan-kiri bareng-bareng membatasi gerakan-gerakan radikal. Teroris itu berbahayanya kalau sudah bersenjata tapi kalau belum maka dihadapan 220 juta orang Indonesia itu bagai jangkrik & semut siap untuk dipithes dan dihancurkan. Walau ide-ide terorisme itu seperti kecoak yang sulit mati, namun sembari kita MEMAJUKAN Indonesia optimislah kita bisa membypass segala hal di sana.

Tapi ingat jangan lakukan penghakiman sendiri serahkan masalah pada polisi biar penyelesaian lebih integratif dan holistik karena semua ilmu pada mereka. Saya tegaskan lagi untuk menjadi surveillance, menjadi lebih peka terhadap hal-hal sekitar kita .

The Will of The People

Percayalah segala hal di dunia yang pelik bisa terselesaikan bila 'The Will Of The People' converged!



google+

linkedin