Monday, May 14, 2018

Fenomena positif-negatif yang terjadi setelah terror bom

Post oleh : Jonska | Rilis : May 14, 2018 | Series :
Saya menulis post ini sebagai log / catatan / ingatan yang perlu diwaspadai ke depan. Ibarat kita ini kecurian sesuatu dan kemudian berupaya untuk menutup segala celah yang dapat lagi dimanfaatkan oleh pencuri. Demikian kita bisa menegaskan bahwa teroris adalah pencuri dan segala metodologi mereka untuk memenangkan perang miring-nya.

Jangan Menyebarkan Foto-foto Aksi Teror
Jangan Menyebarkan Foto-foto Aksi Teror

1. Adanya dissent walau sudah ada bukti nyata

Ketika ada kejadian teroris dan kemudian sudah dikonfirmasi oleh wartawan, masih ada saja orang-orang yang kemudian mengatakan hal-hal seperti: itu pengalihan isu atau hoax, semua salahkan pemerintah yang tidak becus dll. Hal ini cukup aneh, beberapa kawan mengatakan bahwa mereka adalah accomplice (teman sepermainan) dari teroris namun ada pula yang berpendapat bahwa mereka adalah orang yang ignorant. Beberapa kawan saya yang ke gereja SMTB waktu itu juga tidak percaya akan adanya isu bom, namun sewaktu mereka melewati gereja mereka melihat berbagai kerusakan yang menyobek hati mereka, bau bakaran dan hal-hal tidak mengenakan itu langsung menyadarkan kawan saya.

Nah bagi yang tidak melakukan ‘recheck’ akan sangat rugi, karena hal ini adalah hal yang menyangkut eksistensial kita / hidup tidaknya diri ini. Kalau menyinggung hidup dan mati, maka walau itu terindikasi ‘hoax’ tingkatkan sensor waspada hingga 250% biasanya.

2. Memanfaatkan isu untuk kepentingan politik

Nah ini, saya mengatakan ini juga tidak berarti mendukung presiden inkumben. Namun hal ini terkait juga dengan kepekaan dan prinsip orang yang menebar isu. Orang yang menghiraukan tragedi ini namun kemudian take first benefit adalah orang yang paling kurang ajar dan tidak perlu dianggap serius. Patut dicermati bahwa orang berkarakter adalah orang yang bisa merasakan sakit / penderitaan orang lain, sedangkan di kutub lain hanya orang psikopath yang tidak tau penderitaan orang lain.

3. Menyebarkan foto terror

Ini juga jenis orang yang ignorant, mungkin kalau membuat masakan dia tidak akan peduli yang makan itu akan keracunan / bahkan masakannya enak/tidak. Apa yang kita lakukan harus melalui kematangan berpikir dahulu, jangan melakukan sesuatu secara kompulsi (tanpa dipikir). Yang terjadi setelah ada 1 orang menyebarkan adalah yang lain juga menyebarkan foto tersebut membentuk efek domino, sehingga membentuk ‘the will of the people’ yang kurang kondusif. Biarlah foto itu diolah oleh jurnalis, karena mereka memiliki ilmu dan kebijaksanaan serta pastinya sudah berkomunikasi dengan pihak polisi.

Masyarakat panik juga bisa menguntungkan teroris, belum lagi informasi yang (pastinya) ditahan oleh polisi. Ibarat gini kalau orang panik, mereka akan menjadi superkepo dan kemudian akan menyebarkan informasi sekecil apapun guna menyelamatkan orang sekitarnya (menurut persepsi orang tersebut). Namun kawan pada saat terjadi suatu peristiwa besar, polisi juga membutuhkan ‘status quo’ agar situasi lebih mudah terkontrol dan kerugian tidak semakin besar. Harus disadari itu adalah merupakan taktik untuk mengunci pergerakan. & emosi lain yang dirasakan oleh teroris. Sehingga jangan pernah melakukan hal tersebut.

4. Memberikan tanggapan yang tidak berperasaan

Ada beberapa orang yang memberikan tanggapan tidak berperasaan pada media publik (sosmed), hal ini tentunya meresahkan karena akan mengagitasi kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan teroris. Disengaja / tidak disengaja hal ini perlu penanganan khusus dari pihak kepolisian. Maksud saya penanganan adalah dengan memberi perhatian khusus pada oknum demikian.

Yang terjadi pada umumnya, masyarakat akan menscreenshoot orang tersebut dan direshare untuk dilakukan sejenis ‘hukum rimba’. Saya tidak bilang menyetujui metode tersebut, namun apabila orang melakukan hal buruk kemudian bebas bukankah itu membiarkan mereka melakukan kejahatan lagi?

5. Menebarkan informasi hoax (informasi terjadinya peristiwa pada daerah lain)

Di surabaya ketika itu terjadi pengeboman di polrestabes kemudian ada yang mengatakan colombo juga ikut kejadian. Nah ini, walau iseng adalah bagian dari kehidupan manusia namun itu adalah hal-hal yang psikopath apabila sudah berhubungan dengan situasi hidup-mati. Maka kawan-kawan bercanda itu boleh tapi jangan yang menyangkut keamanan diri kita dan orang lain.

NAMUN POSITIFNYA

Namun saya pribadi merasakan bahwa yang terpenting dari kejadian ini adalah posting oleh saudara Hizkia, lewat artikel berjudul terorisme dan disiplin emosi. Yang terpenting adalah tentang bagiamana kita kemudian ‘move on’ dari situasi pelik tersebut, jangan terlalu emosional karena akan sangat capek. Waspada perlu hindari juga berbagai keramaian dan lokasi-lokasi yang rawan serangan.

Banyak juga tokoh dari lintas agama dan seniman yang memberikan penguatan kepada orang Surabaya terhadap kejadian ini. Saya melakukan posting ini masih belum pasti di Surabaya masih akan ada terorisme lagi, sudah 2 hari berturut-turut.

Tetap siaga dan selalu berkarya konstruktif ke depan, inilah pembalasan dendam terbaik kita untuk penggiat terorisme! Destruksi dilawan dengan konstruksi!

google+

linkedin