Thursday, May 10, 2018

Pelajari Keras Sejarah, Sebuah Essay Kritis

Post oleh : Jonska | Rilis : May 10, 2018 | Series :
Sejarah apabila dibaca dengan bahasa sains adalah menjadi: data tidak lengkap yang telah terjadi di masa lalu. Tidak lengkap karena tidak mencakup catatan statistikdata 5 indera tiap detiknya. Sejarah memang nyata, namun tiap tulisannya selalu mengacu pada orientasi penulis. Bila penulis mengerti sedikit maka sejarah akan dangkal, apabila penulis adalah tokoh yang kalah maka sejarah akan sangat detil dengan berbagai bukti juxtapose dan konotasi negatif penguasa, bila penulis adalah tokoh yang menang maka yang penting adalah glorifikasi, tentang detil pemenang itu hanya berkata‘Ssst itu resep rahasia’.

Sejarah Juga Adalah 'Big Data'


Saya mencoba bernafas, mengambil udara segar pagi itu dalam-dalam, merasakan deru topan angin yang masuk ke trakea menuju ke paru-paru berulang-ulang. Saya sadar bahwa hal ini terjadi tiap waktu, tiap detik yang terlepas selalu saya taken for granted. Detik kemarin pun juga begini walau dalam situasi yang berbeda: situasi yang sulit. Saya hidup pada tahun 2018 ini, di suatu titik saya mengalami kesadaran bahwa sebelum-sebelumnya juga ada pendahulu-pendahulu yang melanjutkan keturunan hingga di titik saya sendiri. Manusia bener-bener menaiki sebuah tangga waktu yang semakin naik ke atas, semakin memiliki angka banyak dari tahun 0 hingga 2018. Namun apakah semakin baik progress kemajuannya? kita bisa mempertanyakan itu, kalau kita sebelumnya bisa mempertanyakan nafas kita.

Ketika saya menghadapi masalah, misal orang yang berhutang tapi sulit ditagih: saya mempertanyakan juga ‘apakah di 2018 tahun ke belakang itu juga ada kasus yang sama ya?’. Saya pikir akan jadi mindless kalau kita menyelesaikan berbagai masalah dengan tanpa melihat data ke belakang untuk memilih-milih solusi yang terbaik, apabila dihitung secara kasar dengan rata-rata 65 tahun maka setidaknya akan ada 31 orang berbeda dari 1 generasi - pada 1 lini. Dengan kata lain itu hanya 1 lini, dan berapa banyak jumlah manusia sekarang ini? Selalu akan ada ‘data’ dengan zeitgeist yang bisa ditelusur dalam kehidupan-kehidupan beda generasi itu, pastinya selalu ada potensi data tentang masalah-masalah yang bisa kita telusur.

Zeitgeist sendiri bukan istilah keren-kerenan saja, namun zeitgeist kalau boleh saya terjemahkan sendiri adalah bentuk ‘jiwa’ dari sebuah fenomena yang selalu ada di tiap generasi. ‘Jiwa’ dari fenomena-fenomena konkret yang ada. Contoh gampangnya adalah misal jiwa komunikasi, maka fenomena konkret itu selalu terlahir: mulai dari perkataan lisan, kode-kode, menjadi surat, telegram, sms, email, pesan chat, dll. Komunikasi selalu ada dalam wujud fenomena yang berbeda, mungkin setelah pesan chat di masa depan akan ada telepati? Contoh lain zeitgeist yang paling penting adalah untuk jiwa ‘perang’ yang kemudian saat ini menjadi bentuk-bentuk praktek dalam bisnis.

*Apa zeitgeist dari fenomena orang berhutang yang saya permasalahkan? apakah tentang relasi saja, kepercayaan atau tentang suatu jenis peperangan kecil di sini? saya juga tidak tahu. Yang saya mengerti adalah bahwa hal tersebut juga selalu terjadi di masa lalu, kadang tertawa kecil saat memikirkan ‘berapa banyak ya orang yang sudah meninggal tapi hutangnya belum dibayar?’

Dengan mempelajari sejarah kita bisa melihat universalitas fenomena-fenomena dalam kisi-kisi zeitgeist yang ada, apabila mungkin kita bisa melakukan reverse-engineering untuk memprediksi fenomena berikutnya.

Sejarah itu adalah sumber data, data mentah, ibarat daging mentah yang bisa diolah menjadi berbagai masakan seperti rendang, rawon, soto, sate, kentang-daging, abon, dll. Sejarah harus diekstrak namun untuk mau mengekstrak kita harus mau baca, karena dengan cara lain apa lagi kita mendalami sejarah? film? itupun masih terbatas. Cuma tulisan yang menjadi rekaman sejarah paling utama hingga detik ini. Dan apa yang terjadi bila daging itu tidak segera dimasak? akan terbuang percuma dan bau. Tiap kita mengulang kesalahan dengan tidak mengingat sejarah -baik yang klasik maupun kontemporer - hidung kita akan mengalami bau busuk, sangat memalukan untuk diri sendiri.

Permasalahan terbaru seperti skandal facebook & cambridge analytica adalah upaya untuk mensaintifikasi dari sejarah. Mengubah data faktual kehidupan menjadi data-data digital biostatistika yang bisa dikuantifikasi, dianalisis dan bahkan dilakukan eksperimen-eksperimen di dalamnya. Eksperimen yang diketahui terbaru tentang iklan yang mengubah preferensi voting publik dalam aktivitas terkait politik.
Kita bisa maju dengan meneliti dan mengulang produk-produk unggul dari sejarah, saya menekankan kata produk pada praktek-prakteknya, bukan pada benda-benda sejarah yg kusam itu, karena apalagi yang profit digunakan dari sejarah? Masak mau pake apa yang ada di museum? sudah kuno semuanya dan tidak efektif lagi. Yang masih efektif adalah ‘jiwa-jiwa’ atau ‘nilai-nilai’ atau ‘informasi’ yang tersimpan dalam sejarah itu.

Dengan menekankan pentingnya menseriusi sejarah, saya tidak bilang terlalu jauh untuk “Dengan ini pasti yakin Indonesia menjadi maju”, bisa-bisa nanti akan jadi janji kosong seperti hobi para politisi dong hehehe... Saya sendiri sangat menggetoli motto ‘help yourself first, before you came to help others if not you’ll just be a burden’. Dengan mengekstrak sejarah, meneliti dan mengulang produk-produk unggul dari sana kita bisa mengembangkan diri kita sendiri dulu. Breakthrough dari level sebelumnya - bayangkan game kita bergerak dari level 1 ke level 2 - suatu sensasi akan sangat menyenangkan bukan?

Take it seriously guys, generasi Indonesia sudah cukup dengan konten-konten banyolan bersifat inlander yang mendegradasi diri: make fun of ourselves. Sejarah sebaiknya diseriusi dan dijadikan semacam ‘manga’ atau semacam ‘bioskop’ yang selalu demen untuk ditilik lagi setidaknya setiap minggu, karena di dunia ini dengan adanya globalisasi informasi mudah terlihat bahwa perang seringkali terjadi: tanpa ada pertahanan kuat, kita akan selalu rawan untuk dijajah oleh orang lain.

Sejarah itu adalah bukti dan bacaan menyenangkan paling logis yang bisa kita dapatkan saat ini. Truth explaining facts and facts supporting truth, adalah motto yang bisa kita pegang saat menseriusi sejarah.

google+

linkedin